Buka Matahati

Iqro (media silaturahmi selalu berbagi dalam sudut pandang yang berbeda)

Archive for July, 2010

Pelajar Indonesia Raih Emas Olimpiade Biologi

Posted by doel on July 20, 2010

Tangerang : Pelajar Indonesia kembali mengharumkan nama bangsa di ajang internasional. Dalam Olimpiade Biologi Internasional di Changwon, Korea Selatan, pelajar Merah Putih menyabet dua medali emas dan dua medali perunggu.

Sambutan meriah diberikan bagi para pelajar yang mewakili Indonesia pada Olimpiade Biologi Internasional saat tiba di Bandar Udara Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten, Senin (19/7). Selain teman sekolah, perwakilan dari Kementrian Pendidikan Nasional juga hadir.

Putra-putri bangsa meraih hasil maksimal di Korsel. Irfan Haris, siswa SMA Negeri 1 Pringsewu, Lampung dan Harun Reza Sugito, pelajar SMAK 1 BPK Penabur Jakarta meraih medali emas. Dua medali lain yakni perunggu dipersembahkan Danang Chrysnanto dari SMAN 1 Wonogiri dan Thoriq Salafi, siswa MAN Insan Cempaka Tangerang.

Dalam ajang tahunan tersebut, pelajar Indonesia bersaing dengan lebih 200 pelajar dari 60 negara. Oleh pemerintah, jerih payah mereka pun akan diganjar beasiswa hingga jenjang S2 dan S3 di seluruh universitas terbaik di dunia./Liputan6.com

Posted in Tahukah Anda ? | Leave a Comment »

Niat Seseorang Bisa Dibaca Melalui Scan Otak

Posted by doel on July 6, 2010

Washington – Teknologi kedokteran menapak satu langkah lagi ke depan. Alat pemindai otak yang dapat memprediksi apa yang akan dilakukan seseorang, lebih baik daripada dirinya sendiri. Alat ini mungkin akan menjadi jalan yang ampuh bagi pengiklan atau dokter yang ingin memotivasi konsumen atau pasiennya.

Para peneliti mengatakan, mereka menemukan cara untuk menafsirkan secara langsung gambar otak yang menunjukkan dimana seseorang memperlihatkan pesan ingin menggunakan tabir surya yang kenyataannya kemudian menggunakan tabir surya selama minggu berikutnya.

Emily Falk dan rekan-rekannya di Universitas California, Los Angeles melaporkannya dalam Journal of Neuroscience. “Kami berusaha untuk mencari tahu apakah ada pesan yang tersembunyi di dalam otak,” kata Falk dalam wawancara telepon.

“Banyak orang memutuskan untuk melakukan sesuatu, tetapi kemudian tidak melakukannya,” tambah Matthew Lieberman, seorang profesor psikologi yang memimpin studi ini.

Tetapi dengan pencitraan resonansi magnetik fungsional atau fMRI, Falk dan rekan mampu melampaui niat baik untuk memprediksi perilaku yang akan dilakukan.

FMRI menggunakan medan magnet untuk mengukur aliran darah di otak. Hal ini dapat menunjukkan wilayah otak yang lebih aktif dibandingkan dengan orang lain, tetapi membutuhkan interpretasi yang cermat.

Tim Falk merekrut 20 anak muda, laki dan perempuan, untuk percobaan mereka. Alat pemindai fMRI mereka membaca dan mendengarkan pesan tentang penggunaan tabir surya yang aman, dicampur dengan pesan lain sehingga mereka tidak akan menebak seputar percobaan mereka.

“Pada satu kali percobaan, sebelum sesi pemindaian, masing-masing peserta menunjukkan mereka menggunakan tabir surya selama seminggu sebelumnya, niat mereka untuk menggunakan tabir surya pada minggu berikutnya dan sikap mereka terhadap tabir surya,” tulis para peneliti.

Setelah mereka melihat pesan, para relawan menjawab pertanyaan-pertanyaan tentang maksud mereka, dan kemudian mendapat tas yang berisi, antara lain, handuk tabir surya. ”Seminggu kemudian kami melakukan untuk mengetahui apakah tabir surya mereka gunakan,” kata Falk.

Tim peneliti menganalisa kembali scan MRI untuk melihat apakah mereka menemukan aktivitas otak yang akan berbuat lebih baik. Kegiatan dalam satu bidang otak, bagian tertentu dari korteks prefrontal medial, memberikan informasi terbaik. ”Dari kawasan otak ini, kita bisa memprediksi sekitar tiga-perempat dari orang-orang apakah mereka akan meningkatkan penggunaan tabir surya di luar apa yang mereka katakan,” kata Lieberman.

Sekarang, Falk mengatakan, tim akan mencari daerah lain dari otak yang mungkin menambah akurasinya.

Falk mengatakan, temuan ini penting untuk pengiklan dalam mengasah pesan motivasi. Sama pentingnya bagi ahli kesehatan masyarakat yang berusaha membujuk orang untuk membuat pilihan yang lebih sehat.

Tim saat ini sedang mempersiapkan sebuah laporan pada percobaan untuk memprediksi apakah orang akan berhenti merokok setelah melihat pesan motivasi. REUTERS| Tempointeraktif

Posted in Medis | Leave a Comment »

Pola Gen Tentukan Usia Seseorang

Posted by doel on July 6, 2010

Washington – Para peneliti telah menemukan pola gen yang diprediksi dimiliki oleh mereka yang hidup lebih dari 100 tahun. Temuan yang telah diterbitkan jurnal Science ini dipimpin oleh Paola Sebastiani dan Dr Thomas Perls dari Boston University. “Penelitian ini memiliki akurasi terbaik,” kata Sebastiani.

Mereka mempelajari sekitar seribu orang yang hidup sampai usia lebih dari 100 tahun kemudian mengidentifikasi pola-pola genetik mereka. Ternyata kebanyakan dari mereka yang hidup di atas 100 tahun memiliki pola gen yang sama.

Penelitian genome ini mengidentifikasi 19 pola di antara 150 gen dan pola-pola inilah yang akan menentukan apakah orang tersebut berumur panjang atau tidak. “Tingkat akurasinya mencapai 77 persen,” katanya.

Beberapa tanda pada pola tersebut berhubungan dengan penyakit lanjut usia, seperti demensia, penyakit jantung atau hipertensi. Namun, memiliki gen panjang usia ini belum tentu membuat seseorang benar-benar berumur panjang, karena masih ada faktor lain, seperti merokok, minum dan makan terlalu banyak.

Saat ini sekitar 1 dari 6.000 orang hidup sampai 100 tahun dan 1 dari tujuh juta orang dapat bertahan hingga usia 110 tahun. Temuan ini menawarkan harapan bagi mereka yang ingin hidup lebih lama.

Reuters|Tempointeraktif|

Posted in Ilmu dan Teknologi | Leave a Comment »

Akulturasi di Bali Terjadi sejak 1380

Posted by doel on July 6, 2010

DENPASAR Puluhan etnis yang hidup harmonis dan berdampingan satu sama lainnya di Bali mengalami proses akulturasi sehingga mampu melahirkan karya seni budaya yang unik dan menarik.

“Proses akulturasi itu telah terjadi sejak tujuh abad yang silam, yakni sejak sejumlah etnis pertama kali bersentuhan pada tahun 1380,” kata Dr Drs I Gusti Made Ngurah MSi, dosen pada Institut Hindu Dharma Negeri (IHDN) Denpasar, Selasa (6/7/2010).

Ia mengatakan, akulturasi itu menunjukkan adanya saling serap mengenai unsur budaya antaretnis, termasuk dari unsur agama Islam sebagai pendatang ke dalam budaya etnis Bali yang Hinduistik sebagai penerima.

Penerimaan dan penghargaan terhadap agama lain yang datang ke Bali oleh penduduk yang Hinduistik sampai saat ini masih berjalan dengan baik tanpa mengalami hambatan yang berarti.

Gusti Ngurah menambahkan, suku Bali-Hindu sejak semula hingga sekarang sangat toleran menerima dan menghargai kemajemukan sehingga kehadiran penduduk luar dari berbagai latar belakang bisa hidup berdampingan di “Pulau Dewata”.

“Mereka hidup mesra dan harmonis dalam waktu yang sangat panjang, tanpa ada yang merasa terganggu dalam arti luas,” ujar Gusti Ngurah, yang juga mantan Kakanwil Departemen Agama Provinsi Bali itu.

Hal itu dapat diwujudkan tidak lepas dari karakter agama Hindu yang dianut sebagian besar penduduk Pulau Dewata yang menjunjung tinggi sikap toleransi sebagai wujud ajaran agama “Tat Twam Asi”.

Etnis Bali sebagai kelompok dominan terhadap etnis pendatang hingga saat ini masih bernada positif dan terbuka. Sebaliknya persepsi etnis pendatang terhadap etnis Bali dapat disimpulkan sangat baik dengan suatu pandangan yang agak subyektif.

“Orang Bali umumnya toleransi, terbuka, sopan, jujur, dan kreatif. Berbeda jika kita perhatikan secara saksama mengenai penerimaan dan penghargaan terhadap keberadaan agama Hindu di tingkat nasional dan daerah lain, yang sampai sekarang masih mendapat perlakuan yang berbeda, baik menyangkut regulasi pemerintah, pengadaan tenaga pelayan agama, maupun fasilitas pelayanan keagamaan,” tutur Gusti Made Ngurah.

Di tingkat nasional setelah Indonesia merdeka, keberadaan agama Hindu tidak mendapat pengakuan secepat yang diperoleh agama lain sebagai agama yang sah dan resmi dari pemerintah yang berkuasa.

Padahal, agama Hindu lahir pertama di dunia, yakni pada sekitar 2.500 tahun sebelum Masehi, dan pertama kali pula masuk ke Indonesia, kemudian menyebar ke Bali.

Setelah Indonesia merdeka 17 Agustus 1945, menyusul pendirian Departemen Agama 3 Januari 1946 untuk menjabarkan tugas pelayanan umat beragama, agama Hindu belum mendapat pengakuan resmi dari pemerintah tentang keberadaannya di Indonesia hingga tahun 1959.

Bahkan, sejak 1953 hingga 1959, agama Hindu dimasukkan dalam organisasi aliran keagamaan pada Departemen Agama RI.

“Kondisi itu menunjukkan tidak adanya saling menerima dan saling menghargai atas keberadaan suatu agama di tingkat nasional dalam waktu yang sangat panjang,” ujar Gusti Made Ngurah. kompas/antara

Posted in Tahukah Anda ? | Leave a Comment »

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.