Buka Matahati

Iqro (media silaturahmi selalu berbagi dalam sudut pandang yang berbeda)

  • July 2014
    M T W T F S S
    « May    
     123456
    78910111213
    14151617181920
    21222324252627
    28293031  

  • zwani.com myspace graphic comments

    Google Groups
    Infodokter
    Visit this group

Awas! Sakit Kepala ‘Menetap’ Picu Kanker Otak

Posted by doel on May 2, 2011

Awas! Sakit Kepala 'Menetap' Picu Kanker Otak

INILAH.COM,Jakarta - Sakit kepala yang menetap, berkepanjangan dan menahun bisa saja menjadi gejala awal dari kanker otak. Jika Anda merasakannya, waspadai gejala tersebut dan segera periksa ke dokter ahlinya.

Kanker otak memang tak ‘sebeken’ penyakit kanker lain, seperti kanker serviks atau kanker payudara. Namun, seperti kebanyakan penyakit kanker pada umumnya, kanker otak merupakan penyakit bersifat diam (silent killer) yang berbahaya.

Karena sifatnya itu, seringkali penyakit kanker otak baru terdeteksi setelah memasuki stadium lanjut. Jika rasa sakit di bagian kepala telah memuncak, ada kemungkinan, kanker itu telah menyebar ke bagian tubuh lain (metastasis). Kalau sudah begitu, penanganan kanker menjadi lebih rumit dan berisiko.

“Oleh karena itu, masyarakat perlu melakukan deteksi sejak dini penyakit kanker otak,” saran Fielda Djuita, spesialis radiologiRumah Sakit Mochtar Riady Comprehensive Cancer Centre Siloam Hospitals Semanggi, Jakarta.

Seperti kebanyakan penyakit kanker, diagnosis dini dan pengobatan adalah kunci untuk pemulihan.  Pengobatan yang terlambat akan mengkibatkan sel kanker tersebut menyebar dan masuk ke semua jaringan otak dan pada akhirnya bisa menyebabkan kematian.

Gejala dan faktor risiko

Kanker otak tidak memiliki beberapa gejala. Tanda-tanda kanker otak tergantung pada lokasi bagian yang terkena serangan kanker. Kejang, kehilangan keseimbangan, penglihatan kabur, kesulitan bicara, pusing, kehilangan penglihatan dan pendengaran bisa menjadi tanda-tanda dari gejala kanker otak.

Walaupun tidak semua tanda-tanda itu merupakan ciri khas dan gejala kanker otak, tetapi Anda harus waspada jika sering mengalami salah satu atau beberapa gangguan seperti yang disebutkan di atas.

Sementara itu, Ada beberapa faktor penyebab risiko terkena kanker otak.  Bila dalam riwayat keluarga ada yang pernah terkena penyakit ini, maka Anda memiliki risiko tersebut.

Selain itu, paparan terus-menerus dari bahan kimia tertentu dapat meningkatkan risiko kanker. Seorang perokok juga berisiko lebih tinggi terkena penyakit ini daripada orang yang tidak merokok. Faktor risiko lainnya adalah ras. Kanker otak lebih sering terjadi pada ras kulit putih.

Pengobatan kanker otak

Dengan melakukan deteksi sejak dini, perkembangan tumor ke arah sel kanker ganas dapat dicegah. Meskipun, pasien kanker stadium lanjut pun masih berpeluang sembuh.

Kini, dengan peralatan medis mutakhir yang dimiliki sejumlah rumahsakit di Tanah Air, Anda tak perlu lagi berobat ke luar negeri, seperti Singapura atau China, dua negara yang selama ini menjadi destinasi favorit para pasien penyakit kanker asal Indonesia.

Fielda Djuita menjelaskan Beberapa rumahsakit di Indonesia sudah punya fasilitas dan infrastruktur canggih untuk penyakit kanker.

Beberapa peralatan, seperti Positron Emission Tomography Computed Tomography (PET-CT) serta peralatan terapi radiasiLinear Accelerator, kini telah dapat dinikmati pasien di rumahsakit nasional. Dua alat ini sangat menunjang penanganan penyakit kanker.

Mesin PET-CT berguna meningkatkan akurasi penilaian dokter dalam menilai kondisi suatu tumor jinak atau ganas. Pada praktiknya, pasien akan diinjeksi dengan cairan gula (glukosa) yang mengandung radiasi dalam tingkatan normal.

Selanjutnya, tubuh pasien dipindai dengan PET-CT tersebut. Hasilnya, situs atau lokasi tumor ganas akan berpijar terang. Sebab, sel tumor ganas memerlukan sumber energi seperti glukosa untuk bermutasi.

Setelah diketahui lokasi dan sifat dari tumor pada tubuh pasien, para ahli medis yang menangani penyakit kanker tersebut akan melakukan diskusi. Tujuannya tak lain untuk mencari strategi yang tepat bagi pasien apakah masih diperlukan tes kembali atau diperlukan tindakan ekstra karena kanker telah menyebar ke bagian tubuh yang lain.

Bahkan, lanjut Hendra, setelah melewati proses pengangkatan kanker pun, pasien masih harus melakukan pengecekan lewat mesin PET-CT. Tujuannya untuk mengetahui apakah sel kanker atau keloid telah hilang dari tubuh pasien setelah operasi.

Setelah alat PET-CT, dokter dapat mengambil tindakan menggunakan Linear Accelator. Alat ini berfungsi untuk menyinari bagian tubuh yang menjadi situs kanker. Penyinaran dilakukan selama tiga menit. Selama penyinaran itu, pasien tidak dibius.

Biasanya, kata Fielda, pasien anak-anak penderita kanker bakal mendapatkan sekitar 25 kali penyinaran. Sedangkan penyinaran pasien kanker otak dewasa dilakukan sebanyak lebih dari 30 kali. “Dokter dapat mengombinasi antara operasi dengan penyinaran bila situs kanker adalah organ lunak dan penting seperti otak,” ujar dia.

Alat Linear Accelator ini cukup penting bagi pengobatan kanker. Sebab, akurasi penyinaran alat ini cukup tinggi, sehingga bisa meminimalisir kematian sel otak yang masih sehat.

“Ada sistem yang disebut On Board Imaging (OBI). Sistem ini dapat meningkatkan akurasi karena dapat menyinari situs dalam posisi 360 derajat,” ujar Fielda.

Ukuran tumor atau kanker yang dapat disinari dengan alat ini, biasanya, di atas 3 centimeter (cm). Bila di bawah 3 cm, proses pengangkatan dapat dilakukan dengan alat yang disebut Gamma Knife. Tujuannya adalah mengangkat kanker sebanyak-banyaknya dan meminimkan risiko kehilangan fungsi otak./Oleh Dahlia Krisnamurti

Posted in Tahukah Anda ? | Leave a Comment »

Masalah HIV/AIDS dan Rokok perlu perhatian serius

Posted by doel on February 2, 2011

Untuk meningkatkan sumber daya manusia yang berkualitas sebagai kekuatan pembangunan, masalah HIV/AIDS dan rokok memerlukan perhatian serius. Hal ini disebabkan jumlah penderita HIV/AIDS terus meningkat setiap tahunnya dengan proporsi kumulatif kasus AIDS tertinggi pada kelompok usia produktif (usia 20-29 tahun) sebanyak 49,07%.

Demikian juga dengan jumlah perokok, berdasarkan hasil Riskesdas Tahun 2010, prevalensi perokok secara nasional sebesar 34,7%. Berarti lebih dari sepertiga penduduk berisiko mengalami gangguan kesehatan seperti kanker, penyakit jantung dan penyakit akibat gangguan pernapasan. Hal itu disampaikan Menteri Kesehatan, dr. Endang Rahayu Sedyaningsih, MPH, Dr.PH ketika menyampaikan sambutan kepada peserta Rapat Kerja Nasional Gubernur di Jakarta, Senin, 31 Januari 2011.

Menurut Menkes, kesehatan merupakan unsur dominan dalam Millenium Development Goals (MDGs), karena lima dari delapan agenda MDGs berkaitan langsung dengan kesehatan.

Lima agenda tersebut adalah

  • Agenda ke-1 (Memberantas kemiskinan dan kelaparan),
  • Agenda ke-4 (Menurunkan angka kematian anak),
  • Agenda ke-5 (Meningkatkan kesehatan ibu),
  • Agenda ke-6 (Memerangi HIV/AIDS, Malaria, dan penyakit lainnya),
  • serta Agenda ke-7 (Melestarikan lingkungan hidup).

Untuk mendukung upaya pencapaian MDG’s, pada tahun 2011 Kemenkes mulai meluncurkan Bantuan Operasional Kesehatan (BOK). BOK diberikan kepada seluruh Puskesmas di Indonesia yang besarnya berkisar antara Rp 75 juta sampai Rp 250 juta per tahun sesuai wilayah regional masing-masing. Pada tahun 2011 ini juga mulai dilaksanakan Program Jaminan Persalinan (Jampersal), yaitu pemberian jaminan persalinan bagi masyarakat yang belum mendapat jaminan kesehatan untuk persalinan.

Jaminan pelayanan yang diberikan mencakup :

  • pemeriksaan kehamilan,
  • pelayanan persalinan,
  • pelayanan nifas,
  • pelayanan Keluarga Berencana,
  • pelayanan neonatus dan promosi ASI.

Berkaitan dengan agenda ke-6, Menkes mengingatkan kembali pentingnya komitmen melaksanakan INPRES No. 3 Tahun 2010 tentang Program Pembangunan yang Berkeadilan.

Salah satu fokus program pengendalian HIV/AIDS 2010 dan 2011 yaitu jumlah orang yang berumur 15 tahun atau lebih yang menerima konseling dan testing HIV pada tahun 2010 sebanyak 300.000 orang dan tahun 2011 menjadi 400.000 orang. Persentase orang dengan HIV/AIDS (ODHA) yang mendapatkan obat anti retroviral (ARV) tahun 2010 sebanyak 70% dan tahun 2011 menjadi 75%.

Presentase kabupaten/kota yang melaksanakan pencegahan penularan HIV sesuai pedoman tahun 2010 sebanyak 50% dan tahun 2011 menjadi 60%. Penggunaan kondom pada kelompok risiko tinggi tahun 2011 sebanyak 35% pada perempuan dan 20% pada laki-laki. “Berdasarkan hasil Riskesdas 2010, persentase penduduk umur  15 tahun dengan pengetahuan komprehensif tentang HIV/AIDS sebesar 11,4%.

Hal ini menunjukkan pentingnya terus meningkatkan komunikasi, informasi dan edukasi (KIE) terhadap kelompok ini”, ujar Menkes. Sedangkan prevalensi penduduk yang merokok pada kelompok umur 45-54 tahun sebesar 32,2%.

Sedangkan pada penduduk laki-laki umur 15 tahun ke atas sebanyak 54,1% adalah perokok. Prevalensi tertinggi pertama kali merokok pada umur 15-19 tahun (43,3%) dan sebesar 1,7% penduduk mulai merokok pertama kali pada umur 5-9 tahun. Untuk mengatasi hal itu, mengharapkan para Gubernur segera mengeluarkan kebijakan Kawasan Tanpa Rokok di wilayah kerja masing-masing.

Pemberdayaan masyarakat Mengacu pada visi pembangunan nasional, strategi pertama yang dilakukan Kemenkes adalah pemberdayaan masyarakat, swasta, dan masyarakat madani melalui kerja sama nasional dan global. Berarti pembangunan kesehatan juga tidak terlepas dari komitmen Indonesia sebagai warga masyarakat dunia untuk ikut merealisasikan tercapainya MDGs.

Masyarakat diarahkan agar berdaya dan ikut aktif memelihara kesehatannya sendiri, melakukan upaya pro-aktif tidak menunggu sampai jatuh sakit, karena ketika sakit sebenarnya telah kehilangan nilai produktif.

Upaya promotif dan preventif perlu ditingkatkan untuk mengendalikan angka kesakitan yang muncul dan mencegah hilangnya produktivitas serta menjadikan sehat sebagai fungsi produksi yang dapat memberi nilai tambah, ujar Menkes.

Pemberdayaan masyarakat berupaya memfasilitasi percepatan dan pencapaian derajat kesehatan bagi seluruh penduduk dengan mengembangkan kesiap-siagaan di tingkat desa dan kelurahan yang disebut Desa dan Kelurahan Siaga Aktif seperti dituangkan melalui Keputusan Menkes No.1529/MENKES/ SK/X/2010 tentang Pedoman Umum Pengembangan Desa dan Kelurahan Siaga Aktif.

Desa dan Kelurahan Siaga Aktif adalah desa dan kelurahan yang penduduknya dapat mengakses dengan mudah pelayanan kesehatan dasar yang memberikan pelayanan setiap hari melalui Pos Kesehatan Desa (Poskesdes) atau sarana kesehatan yang ada seperti Pusat Kesehatan Masyarakat Pembantu (Pustu), Puskesmas atau sarana kesehatan lainnya.

Penduduknya dapat mengembangkan upaya kesehatan berbasis masyarakat (UKBM) dan melaksanakan surveilans berbasis masyarakat (meliputi pemantauan penyakit, kesehatan ibu dan anak, gizi, lingkungan dan perilaku), kedaruratan kesehatan dan penanggulangan bencana serta penyehatan lingkungan serta menerapkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS).

Pada kesempatan tersebut, Menkes mengharapkan kepada para Gubernur untuk Mengembangkan Desa dan Kelurahan Siaga Aktif di daerah masing-masing untuk mempercepat tercapainya masyarakat sehat yang mandiri dan berkeadilan. Berita ini disiarkan oleh Pusat Komunikasi Publik, Sekretariat Jenderal Kementerian Kesehatan RI. Depkes.go.id

 

Posted in Informasi Umum | Leave a Comment »

Parasetamol Berdampak Buruk bagi Batita?

Posted by doel on November 29, 2010

WELLINGTON–Penggunaan parasetamol untuk bayi mungkin berhubungan dengan pengembangan alergi dan asma di kemudian hari. Tetapi penelitian lebih lanjut diperlukan untuk mengklarifikasi temuan ini.

“Penelitian lanjutan perlu, apalagi manfaat penggunaan parasetamol untuk pengendalian demam masih lebih besar daripada potensi pengembangan alergi di kemudian hari,” kata Julian Crane, profesor di Universitas Otago Wellington dan penulis laporan ini.

Laporan yang telah muncul dalam jurnal Clinical and Experimental Allergy  didasarkan pada studi nasional mengenai asma dan alergi. Penelitian ini menyasar penggunaan parasetamol untuk 505 bayi di Christchurch dan 914 anak usia 5-6 tahun untuk melihat apakah mereka mengembangkan tanda-tanda asma atau sensitivitas alergi.

“Temuan utama adalah bahwa anak-anak yang menggunakan parasetamol sebelum usia 15 bulan (90 persen) lebih dari tiga kali lebih mungkin untuk menjadi peka terhadap alergen dan dua kali lebih mungkin mengembangkan gejala asma pada enam tahun daripada anak-anak tidak menggunakan parasetamol,” kata Crane dalam sebuah pernyataan.

Penelitian ini menemukan bahwa hingga enam tahun, 95 persen dari sampel penelitian menggunakan parasetamol dan ada peningkatan risiko yang signifikan untuk asma dan mengi. Tapi temuan tergantung pada seberapa banyak parasetamol telah digunakan, dengan risiko lebih besar bagi mereka dengan gejala asma parah./Siwi Tri Puji B/republika.co.id

Sumber: Reuters

 

Posted in Tahukah Anda ? | Leave a Comment »

Wah, 2011 Kemenkes Tanggung Seluruh Biaya Persalinan Ibu Hamil

Posted by doel on November 29, 2010

JAKARTA–Kementerian Kesehatan (Kemenkes) pada 2011 akan menanggung seluruh biaya persalinan mulai dari sebelum, saat, hingga setelah persalinan bagi ibu yang sedang hamil. Syaratnya, proses persalinan itu dilakukan di rumah sakit kelas III atau puskesmas.
“Kami menjamin akan menanggung biaya persalinan mulai dari pemeriksaan sebanyak empat kali sebelum persalinan, saat persalinan, dan tiga kali kontrol setelah persalinan,” kata Direktur Jenderal Bina Pelayanan Medis Kemenkes, Supriyantoro, usai menjadi pembicara dalam Rapat Paripurna Revitalisasi Program Keluarga Berencana Kesehatan di Mabes TNI, Cilangkap, Jumat (26/11).

Kemenkes meluncurkan ‘Program Jaminan Persalinan’ untuk menekan angka kematian ibu bersalin. Saat ini Kemenkes mencatat jumlah kematian ibu masih di atas 228 orang per 100 ribu penduduk. “Jumlah itu masih sangat tinggi. Dengan program ini kami berharap bisa menekan hingga 118 per 100 ribu penduduk,” kata Supriyantoro.

Mekanisme pemberian jaminan persalinan ini diberikan seperti jaminan kesehatan masyarakat (Jamkesmas). Dana yang dikeluarkan untuk program ini diperkirakan mencapai Rp 2,3 triliun.

Kepala Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Sugiri Syarief mengatakan, program persalinan ini diharapkan bisa meningkatkan kualitas kelahiran penduduk tanpa meningkatkan jumlah penduduk./Endro Yuwanto/republika.co.id

Sumber: kominfo-newsroom

 

Posted in Informasi Umum | Leave a Comment »

Gama Knife Obati Tumor Tanpa Operasi

Posted by doel on November 15, 2010

gammaknife

gamma_knife

DENPASAR–Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Pelita Harapan, Karawaci Tangerang Provinsi Banten, Prof Dr Eka Julianta Wahjoeparmono mengatakan, peralatan kedokteran “gama knife” dapat mengobati tumor sulit diditeksi, tanpa operasi. “Saat ini peralatan ‘gama knife’ belum ada di Indonesia karena harganya mahal, sehingga penderita tumor terpaksa berobat ke luar negeri,” katanya di Nusa Dua Bali, Kamis.

Pernyataan itu, disampaikan Eka disela-sela seminar internasional tentang bedah saraf yang diikuti 210 peserta dari mancanegara. Menurut dia, bila ada pasien yang menderita penyakit tumor pada kepala, dan sulit untuk dideteksi termasuk dengan operasi karena keterbatasan alat untuk membuangnya, bisa dilakukan dengan “gama knife” itu. “Penggunaan alat itu, bisa dilakukan dengan cara ditembakkan menggunakan sinar,” ujarnya.
Dia menambahkan, Universitas Pelita Harapan, berencana membeli perlatan kedokteran itu pada 2011, meski harganya mencapai 6 juta dolar Amerika Serikat dengan menggandeng rekanan dari Negara Paman Sam tersebut. Presiden Organisasi Bedah Syaraf Asia dan Oceania itu, juga menyayangkan banyaknya penderita tumor yang berobat ke luar negeri dengan biaya yang mahal, padahal bila alat itu ada dapat diatasi para ahli bedah syaraf di Indonesia.
Sebagai contoh, untuk operasi tumor yang sulit dideteksi itu, maka warga Indonesia harus mengeluarkan uang mencapai Rp130 juta bila berobat ke Singapura dan jika ke Taiwan sebesar Rp75 juta. “Memang tidak semua penderita tumor atau penyakit syaraf lainnya berobat ke luar negeri, ada juga yang di dalam negeri. Di Rumah Sakit Siloam, Karawaci, tempat saya praktik, menangani sekitar 300 pasien per tahun,” katanya.
Ia juga menjelaskan, berdasarkan kajian penggunaan “gama knife” dapat mengurangi penderita penyakit gila yang diderita pasien. Menyangkut sumber daya manusia bidan kedokteran bedah saraf di Indonesia, menurut dia, tidak kalah dengan luar negeri, hanya perlatannya yang tebatas.
Eka juga mengatakan, saat ini cukup banyak pasien gangguan syaraf dari luar negeri, seperti Singapura, Hongkong, Malaysia, Belanda, Kanada, Swiss dan Amerika Serikat menjalani operasi dan perawatan di RS Siloam Karawaci, dengan biaya relatif murah.
“Biaya di kota cukup murah. Untuk pengobatan pasien yang syarafnya terjepit misalnya hanya Rp60 juta, sementara di Singapura mencapai Rp400 juta,” ujarnya. Demikian pula bila ada pasien menderita pecah pembuluh darah di otak, jika berobat ke Amerika mengeluarkan dana sebesar Rp250 miliar tapi bila di RS siloam hanya Rp500 juta./Krisman Purwoko/Republika

Posted in Tahukah Anda ? | Leave a Comment »

Tanda Pradiabetes Dapat Dideteksi

Posted by doel on November 10, 2010

LONDON – Para peneliti dari University College London menyatakan perubahan kimia tubuh dapat dideteksi bertahun-tahun sebelum gejala diabetes 2 menyerang. Studi Lancet, label untuk penelitian, menunjukkan jika perubahan kadar glukosa darah dan kensensitifan sensulin dapat dideteksi pada tubuh orang yang tengah menuju diabetes.

Tim periset meneliti 6.538 tenaga buruh sipil sekitar lebih dari sepuluh tahun. Pada kurun waktu itu terdapat 505 kasus diabetes tipe dua dalam grup partisipan.

Peneliti mengamati naik-turun kadar glukosa darah dalam tubuh para partisipan. Selain itu, mereka juga memantau bagaimana sel-beta pankreas bekerja, dan bagaimana kensensitifan sensulin berubah dari tahun ke tahun.

Tim menemukan partisipan yang tidak mengembangkan kondisi menuju diabetes, menunjukkan perubahan ‘tetap’ dalam tubuh. Kondisi konstan itu terjadi meski dalam kurun sepuluh tahun.

Sangat kontras, partisipan yang menuju arah diabetes menunjukkan peningkatan cepat dalam kadar glukosa. Peningkatan terjadi saat tidak makan maupun setelah makan. Itu berlanjut tiga tahun hingga mereka didiagnosa mengidap gejala diabetes tipe 2.

Tim juga menemukan peningkatan cukup tajam dalam kesensitifan insulin pada pasien diabetes. Kondisi itu dideteksi lima tahun sebelum mereka didiagnosa mengidap.

Pemimpin penelitian, Adam Tabak mengatakan model studi mereka membantu orang-orang yang beresiko tinggi mengidap diabetes. “Sehingga kami dapat membidik orang-orang itu lebih baik untuk mencegah mereka mengembangkan penyakit tersebut,” ujarnya.

“Kami yakin campur tangan saat permulaan sangat penting, bahkan sebelum masuk tahap pradiabetes konvensional” kata Adam. “Metoda itu kami harap dapat menghambat diabetes secara mendasar,” ungkapnya./hc2d.co.uk/itz.

sumber berita : republika.co.id

Posted in Medis, Tahukah Anda ? | Leave a Comment »

Bayi Ini Dibekukan Sampai Mati Agar Selamat

Posted by doel on October 18, 2010

Ilustrasi pembekuan si bayi Samaa (Daily Mail)

VIVAnews – Bayi bernama Samaa Zohir baru berusia sebulan saat dokter memutuskan ia harus dioperasi, jika tidak akibatnya bisa fatal: maut.

Sudah sejak lahir, kondisi Samaa abnormal. Pembuluh darah yang mengalir ke jantungnya terhubung dengan cara yang salah. Harusnya, pembuluh darah itu membawa darah beroksigen dari paru-paru ke sisi kiri jantung. Yang terjadi, justru sebaliknya.

Namun, mengoperasi jantung bayi seukuran lebih kecil dari bola golf jelas tantangan besar untuk para dokter dari Great Ormond Street Hospital, London. Akhirnya sebuah terobosan revolusioner diputuskan: bayi ini dibekukan sampai mati.

Samaa dibuat mati suri. Caranya, dokter meletakkan kantung berisi es di sekeliling kepala bayi itu–darahnya didinginkan dari suhu normal, 37 derajat Celcius, menjadi 18 derajat menggunakan mesin bypass jantung dan paru-paru.

Tak hanya itu, para dokter nekat itu juga menghentikan detak jantungnya dengan cara menyuntikkan obat dan mematikan mesin bypass. Di titik ini, secara klinis, bayi Samaa telah meninggal dunia. Tubuhnya hampir sepenuhnya kehabisan darah.

Sementara itu, ahli bedah kardiotoraks Tain-Yen Hsia dan timnya harus bekerja melawan waktu. Jendela keselamatan maksimum (maximum window of safety) adalah 50 menit–sebelum jantung orok ini harus di-restart untuk mencegah kerusakan pada otak dan organ dalam.

Untungnya, Samaa tak harus menunggu 50 menit untuk hidup kembali. Dokter berhasil membawanya kembali ke dunia dalam waktu 23 menit.

Setelah mesin dihidupkan, darah hangat langsung terpompa dan mengembalikan suhu tubuhnya ke titik normal, 37 derajat Celcius. Jantung mungil itu pun kembali berdetak.

Mengapa Samaa harus dibekukan? Menurut Dokter Hsia, tim medis harus melakukan operasi mikro. Sebab, mereka berurusan dengan pembuluh darah yang setipis kertas beras (rice paper). Satu-satunya cara yang bisa dilakukan adalah membekukan tubuh dan menghentikan sirkulasi darah agar pasien masuk ke fase hipothermia.
“Ini seperti mencemplungkan bayi ke dalam seember air es. Saat menghentikan jantung, kami harus melakukan operasi secepatnya dengan tingkat presisi tinggi,” katanya. “Tidak ada ruang melakukan kesalahan sekecil apapun.”

***
Lima tahun setelah operasi yang dramatis, Samaa telah sembuh total. Satu-satunya bekas operasi yang dimiliki bayi asal Finchley, London Utara ini, adalah bekas luka di dadanya. Ibunya, Roosina Ahmed (30) dengan haru menceritakan saat-saat terberat dalam hidupnya.

“Saat pertama anakku membuka matanya, tak terkira bahagia yang saya rasakan. Bayangkan, selama 20 menit ia terbaring dengan tubuh dingin, tanpa kehidupan,” kata Roosina seperti dimuat Daily Mail, Minggu, 17 Oktober 2010.

Perubahan drastis juga dialami Samaa pasca operasi. Jika sebelumnya ia bayi yang sangat lemah, bahkan untuk menangis sekalipun, kini dia gembul makan dan bermain tak kenal lelah. (sj)

Posted in Ilmu dan Teknologi | Leave a Comment »

Bayi Terlahir dari Embrio Beku 20 Tahun

Posted by doel on October 13, 2010

Bayi Terlahir dari Embrio Beku 20 Tahun

Bayi Terlahir dari Embrio Beku 20 Tahun

NEW YORK–Di Amerika Serikat, seorang perempuan berusia 42 tahun melahirkan bayi laki-laki sehat. Bayi terlahir dari embrio yang dibekukan selama hampir dua puluh tahun. Belum pernah terjadi kelahiran anak dari embrio yang dibekukan sedemikian lama. Demikian tulis majalah Fertility and Sterility Senin (11/10).

Bayi lahir bulan Mei silam. The Jones Institute for Reproductive Medicine Eastern Virginia Medical School di Norfolk menangani kasus ini. Dokter Sergio Oehninger sudah selama sepuluh tahun merawat si ibu yang mengalami infertilitas.

Embrio dibekukan sembilan belas tahun dan tujuh bulan dihasilkan pasangan lain yang tidak ingin disebut namanya, dan disimpan pada institut./REPUBLIKA.CO.ID

 

Posted in Medis | Leave a Comment »

Pelajar Indonesia Raih Emas Olimpiade Biologi

Posted by doel on July 20, 2010

Tangerang : Pelajar Indonesia kembali mengharumkan nama bangsa di ajang internasional. Dalam Olimpiade Biologi Internasional di Changwon, Korea Selatan, pelajar Merah Putih menyabet dua medali emas dan dua medali perunggu.

Sambutan meriah diberikan bagi para pelajar yang mewakili Indonesia pada Olimpiade Biologi Internasional saat tiba di Bandar Udara Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten, Senin (19/7). Selain teman sekolah, perwakilan dari Kementrian Pendidikan Nasional juga hadir.

Putra-putri bangsa meraih hasil maksimal di Korsel. Irfan Haris, siswa SMA Negeri 1 Pringsewu, Lampung dan Harun Reza Sugito, pelajar SMAK 1 BPK Penabur Jakarta meraih medali emas. Dua medali lain yakni perunggu dipersembahkan Danang Chrysnanto dari SMAN 1 Wonogiri dan Thoriq Salafi, siswa MAN Insan Cempaka Tangerang.

Dalam ajang tahunan tersebut, pelajar Indonesia bersaing dengan lebih 200 pelajar dari 60 negara. Oleh pemerintah, jerih payah mereka pun akan diganjar beasiswa hingga jenjang S2 dan S3 di seluruh universitas terbaik di dunia./Liputan6.com

Posted in Tahukah Anda ? | Leave a Comment »

Niat Seseorang Bisa Dibaca Melalui Scan Otak

Posted by doel on July 6, 2010

Washington – Teknologi kedokteran menapak satu langkah lagi ke depan. Alat pemindai otak yang dapat memprediksi apa yang akan dilakukan seseorang, lebih baik daripada dirinya sendiri. Alat ini mungkin akan menjadi jalan yang ampuh bagi pengiklan atau dokter yang ingin memotivasi konsumen atau pasiennya.

Para peneliti mengatakan, mereka menemukan cara untuk menafsirkan secara langsung gambar otak yang menunjukkan dimana seseorang memperlihatkan pesan ingin menggunakan tabir surya yang kenyataannya kemudian menggunakan tabir surya selama minggu berikutnya.

Emily Falk dan rekan-rekannya di Universitas California, Los Angeles melaporkannya dalam Journal of Neuroscience. “Kami berusaha untuk mencari tahu apakah ada pesan yang tersembunyi di dalam otak,” kata Falk dalam wawancara telepon.

“Banyak orang memutuskan untuk melakukan sesuatu, tetapi kemudian tidak melakukannya,” tambah Matthew Lieberman, seorang profesor psikologi yang memimpin studi ini.

Tetapi dengan pencitraan resonansi magnetik fungsional atau fMRI, Falk dan rekan mampu melampaui niat baik untuk memprediksi perilaku yang akan dilakukan.

FMRI menggunakan medan magnet untuk mengukur aliran darah di otak. Hal ini dapat menunjukkan wilayah otak yang lebih aktif dibandingkan dengan orang lain, tetapi membutuhkan interpretasi yang cermat.

Tim Falk merekrut 20 anak muda, laki dan perempuan, untuk percobaan mereka. Alat pemindai fMRI mereka membaca dan mendengarkan pesan tentang penggunaan tabir surya yang aman, dicampur dengan pesan lain sehingga mereka tidak akan menebak seputar percobaan mereka.

“Pada satu kali percobaan, sebelum sesi pemindaian, masing-masing peserta menunjukkan mereka menggunakan tabir surya selama seminggu sebelumnya, niat mereka untuk menggunakan tabir surya pada minggu berikutnya dan sikap mereka terhadap tabir surya,” tulis para peneliti.

Setelah mereka melihat pesan, para relawan menjawab pertanyaan-pertanyaan tentang maksud mereka, dan kemudian mendapat tas yang berisi, antara lain, handuk tabir surya. “Seminggu kemudian kami melakukan untuk mengetahui apakah tabir surya mereka gunakan,” kata Falk.

Tim peneliti menganalisa kembali scan MRI untuk melihat apakah mereka menemukan aktivitas otak yang akan berbuat lebih baik. Kegiatan dalam satu bidang otak, bagian tertentu dari korteks prefrontal medial, memberikan informasi terbaik. “Dari kawasan otak ini, kita bisa memprediksi sekitar tiga-perempat dari orang-orang apakah mereka akan meningkatkan penggunaan tabir surya di luar apa yang mereka katakan,” kata Lieberman.

Sekarang, Falk mengatakan, tim akan mencari daerah lain dari otak yang mungkin menambah akurasinya.

Falk mengatakan, temuan ini penting untuk pengiklan dalam mengasah pesan motivasi. Sama pentingnya bagi ahli kesehatan masyarakat yang berusaha membujuk orang untuk membuat pilihan yang lebih sehat.

Tim saat ini sedang mempersiapkan sebuah laporan pada percobaan untuk memprediksi apakah orang akan berhenti merokok setelah melihat pesan motivasi. REUTERS| Tempointeraktif

Posted in Medis | Leave a Comment »

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.